Kebumen News – 27 Agustus 2026. “Cinta itu nggak bisa bayar kuota.” Kalimat sederhana namun mengena itu menjadi salah satu pesan yang menarik perhatian murid kelas 9 MTs Negeri 4 Kebumen saat mengikuti kegiatan Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS) di Masjid Al Ikhlas MTs Negeri 4 Kebumen.
Bukan sekadar memberikan nasihat, kegiatan yang menghadirkan para petugas Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Rowokele tersebut menjadi ruang pembelajaran bagi para murid untuk memahami berbagai tantangan yang dihadapi remaja. Mulai dari bullying, pergaulan, bahaya narkoba dan HIV, hingga pentingnya mencegah pernikahan usia dini.
BRUS menjadi momentum penting bagi madrasah untuk membekali peserta didik dengan pengetahuan sekaligus karakter. Sebab, menghadapi masa depan tidak cukup hanya dengan prestasi akademik, tetapi juga membutuhkan kemampuan menjaga diri, membangun pertemanan sehat, mengambil keputusan, serta mempersiapkan masa depan secara matang.
Hadir dalam kegiatan tersebut petugas KUA Kecamatan Rowokele, yakni Ilham Alamsyah, S.H., Samirin, S.Pd., Amir Salim, S.Pd., Basiman, S.Pd., Maslakhatun, S.Sos., Faridhatul Amanah, S.Ag., dan Isnaeni Agus Setyawati, S.Pd.
Kepala MTs Negeri 4 Kebumen, H. Mistam, S.Ag., M.Pd., menyampaikan dukungan penuh terhadap kegiatan BRUS. Menurutnya, pembinaan remaja merupakan bagian penting dalam mempersiapkan peserta didik agar mampu melanjutkan perjalanan pendidikan dan kehidupan dengan karakter yang kuat.
“Madrasah sangat mendukung kegiatan positif seperti ini, khususnya demi kebaikan dan masa depan murid-murid madrasah. Terlebih bagi kelas 9, setelah lulus dari MTs diharapkan dapat terus melanjutkan pendidikan setinggi-tingginya, berkarakter mulia, dan memiliki bekal ilmu pengetahuan yang luas,” ungkapnya.
Ia berharap para murid mengikuti kegiatan dengan sungguh-sungguh dan mampu mengambil pelajaran dari setiap materi yang disampaikan.
Pada sesi pengantar BRUS, Samirin, S.Pd., mengajak murid melakukan refleksi melalui perumpamaan manusia sebagai sebuah gelas.
“Mau diisi apa kita?” ujarnya.
Pertanyaan tersebut mengajak murid menyadari bahwa kualitas seseorang sangat ditentukan oleh apa yang ada dan berkembang dalam dirinya. Ilmu, adab, serta skill atau talenta menjadi bekal penting yang harus terus diisi dan dikembangkan.
Dengan ilmu, seseorang memiliki wawasan. Dengan adab, ilmu menjadi lebih bermakna. Sementara dengan keterampilan dan talenta, seseorang memiliki kemampuan untuk mengembangkan potensi dan menghadapi kehidupan.
Materi pertama yang diberikan adalah Bahaya Bullying, Stop Bullying, dan Bangun Pertemanan yang Positif. Materi tersebut disampaikan Amir Salim, S.Pd.
Para murid diajak memahami bahwa bullying bukan sekadar candaan. Perundungan dapat memberikan dampak negatif kepada korban dan menciptakan lingkungan pertemanan yang tidak sehat.
Karena itu, murid didorong berani mengatakan “stop” terhadap bullying. Jika mengalami atau menyaksikan perundungan, mereka tidak boleh diam, tetapi perlu menyampaikan kepada orang dewasa atau pihak yang dipercaya.
Begitu pula ketika mengetahui ada teman yang melakukan bullying. Sikap yang tepat bukan ikut-ikutan, melainkan mengajak teman tersebut berubah dan membangun hubungan pertemanan yang lebih positif.
Materi kedua membahas bahaya narkoba dan HIV yang disampaikan Maslakhatun, S.Sos. Murid diberikan pemahaman tentang dampak penyalahgunaan narkoba serta pentingnya menjaga diri dari perilaku dan pergaulan yang berisiko.
Masa remaja dinilai sebagai fase penting untuk membangun kebiasaan positif. Karena itu, murid diajak menjaga pergaulan, menghindari perilaku berisiko, dan lebih fokus pada pendidikan serta pengembangan diri.
Pesan yang disampaikan tidak berhenti pada larangan, tetapi diarahkan pada kemampuan remaja untuk mengambil keputusan secara bijak. Lingkungan pertemanan, pilihan aktivitas, dan cara menggunakan waktu akan ikut menentukan masa depan.
Materi ketiga mengenai pencegahan pernikahan usia dini disampaikan Ilham Alamsyah, S.H.
“Jangan terburu-buru menikah, siapkan masa depan,” menjadi pesan utama yang disampaikan kepada murid kelas 9.
Agar mudah dipahami remaja, pernikahan dini dianalogikan seperti memainkan game berat menggunakan HP dengan spesifikasi rendah. Akibatnya dapat terjadi “overheat mental, risiko kesehatan, dan performa drop”.
Perumpamaan tersebut menggambarkan bahwa pernikahan membutuhkan kesiapan yang matang. Bukan hanya kesiapan perasaan, tetapi juga mental, kesehatan, ilmu, kemampuan mengambil keputusan, serta kesiapan menjalankan tanggung jawab.
Di sinilah pesan “Cinta itu nggak bisa bayar kuota” menjadi relevan.
Kalimat tersebut mengingatkan para remaja bahwa membangun kehidupan keluarga membutuhkan lebih dari sekadar rasa cinta. Ada tanggung jawab dan kebutuhan nyata yang harus dipersiapkan.
Karena itu, masa remaja sebaiknya digunakan untuk belajar dan menyiapkan masa depan. Pendidikan, pengembangan bakat, pembentukan karakter, serta peningkatan keterampilan menjadi investasi penting sebelum memasuki fase kehidupan berikutnya.
BRUS di MTs Negeri 4 Kebumen pun menjadi lebih dari sekadar kegiatan penyuluhan. Ia menjadi ruang dialog untuk membangun kesadaran bahwa masa depan tidak datang begitu saja, tetapi harus dipersiapkan sejak sekarang.
Murid kelas 9 diharapkan mampu menjaga diri, membangun pertemanan yang sehat, berani menolak bullying, menjauhi narkoba dan perilaku berisiko, serta tidak terburu-buru mengambil keputusan besar sebelum memiliki kesiapan yang memadai.
Pada akhirnya, pesan BRUS tersebut bermuara pada satu hal: remaja harus memiliki masa depan sebelum berbicara tentang membangun keluarga.
Belajar hari ini, menjaga diri sejak dini, mengembangkan potensi, dan terus melangkah meraih pendidikan setinggi-tingginya. Sebab masa depan yang baik tidak dibangun dalam satu malam, tetapi dipersiapkan sejak remaja.
(Kn.01)
