Kebumen News – Kementerian Agama Kabupaten Kebumen bersama BAZNAS Kabupaten Kebumen mendorong santri menjadi pengusaha mandiri. Keduanya membekali 10 santri dari lima pondok pesantren dengan keterampilan usaha laundry pada 16–17 Oktober 2026.
Program dalam rangka memperingati Hari Santri 2026 ini menyasar kemandirian ekonomi pesantren. Selain pelatihan, penyelenggara juga memberikan bantuan mesin cuci dan perlengkapan usaha kepada lima pesantren peserta.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kebumen, H. Anif Solikhin, menutup kegiatan tersebut di Aula SMK Ma’arif 1 Kebumen, Sabtu (17/10/2026). Dalam kesempatan itu, ia menantang santri agar tidak sekadar menguasai keterampilan, tetapi juga berani membuka usaha.
“Mentalnya harus menjadi juragan laundry. Ini kesempatan bagi santri untuk menjadi pengusaha. Praktiknya nanti setelah lulus,” pesannya.
Anif Dorong Santri Berani Jadi Pengusaha
Anif menegaskan bahwa santri memiliki peluang besar untuk mengembangkan usaha setelah menyelesaikan pendidikan pesantren. Karena itu, ia berharap peserta memanfaatkan pelatihan sebagai modal awal membangun kemandirian ekonomi.
Ia juga mengapresiasi BAZNAS Kabupaten Kebumen beserta jajarannya atas dukungan terhadap pengembangan keterampilan santri. Menurutnya, kolaborasi tersebut membuka peluang bagi pesantren untuk mengembangkan kegiatan ekonomi produktif.
Dengan bekal keterampilan dan peralatan usaha, santri diharapkan mampu merintis usaha secara bertahap. Selanjutnya, mereka dapat mengembangkan layanan laundry sesuai kebutuhan masyarakat di sekitar pesantren.
Lima Pesantren Terima Bantuan Peralatan Laundry
Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kebumen, H. Fahrudin, menjelaskan bahwa program ini melibatkan 10 santri dari lima pesantren.
Program tersebut bertujuan membentuk santri yang mandiri, terampil, produktif, dan mampu mengelola usaha. Adapun lima pesantren penerima pelatihan sekaligus bantuan peralatan meliputi:
* Pondok Pesantren Al Kamal Kuwarasan.
* Pondok Pesantren Al Istiqomah Karangsari.
* Pondok Pesantren Al Hasani Jatimulyo.
* Pondok Pesantren Nurul Hidayah.
* Pondok Pesantren As Shidiqiyah.
Setiap pesantren menerima satu unit mesin cuci laundry beserta perlengkapan pendukung. Bantuan tersebut meliputi setrika listrik, tatakan setrika, deterjen, pelembut, pewangi pakaian, dan penghilang noda.
Selain itu, penerima memperoleh bahan praperawatan pakaian, plastik kemasan, gantungan baju, serta sarung tangan atau alat pelindung diri. Peralatan tersebut mendukung peserta saat berlatih sekaligus menjadi modal awal untuk merintis usaha.
Santri Pelajari Teknik Laundry hingga Manajemen Usaha
Selama dua hari, peserta mempelajari berbagai tahapan operasional usaha laundry. Materi mencakup proses pencucian, pengeringan, penyetrikaan atau ironing, hingga pengemasan atau packing.
Peserta juga mempelajari manajemen usaha agar mampu mengelola layanan secara profesional. Dengan demikian, mereka tidak hanya menguasai pekerjaan teknis, tetapi juga memahami tata kelola bisnis.
Keterampilan tersebut menjadi bekal penting untuk menghadapi persaingan usaha. Karena itu, santri perlu menjaga kualitas layanan, mengatur biaya operasional, dan membangun kepercayaan pelanggan.
BAZNAS Tekankan Keseriusan Mengelola Usaha
Ketua BAZNAS Kabupaten Kebumen, Mahmud Fauzi, menegaskan bahwa usaha dapat tumbuh dari langkah kecil. Namun, pelaku usaha harus memiliki perencanaan yang matang dan menjalankan pengelolaan secara serius.
Ia optimistis program ini dapat memberikan hasil apabila peserta menerapkan ilmu secara konsisten. Mahmud juga meminta setiap penerima bantuan mengelola peralatan dan administrasi usaha secara tertib.
Menurutnya, bantuan peralatan harus mendorong kegiatan produktif, bukan sekadar menjadi fasilitas pesantren. Oleh sebab itu, pengelola perlu memanfaatkan sarana tersebut untuk mengembangkan layanan laundry secara berkelanjutan.
Pesantren Didorong Menjadi Pusat Pemberdayaan Ekonomi
Kolaborasi Kemenag dan BAZNAS Kebumen ini memperluas peran pesantren dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat. Pesantren tidak hanya mengembangkan pendidikan agama, tetapi juga dapat menumbuhkan keterampilan dan jiwa kewirausahaan santri.
Melalui program ini, santri diharapkan mampu menciptakan peluang usaha setelah lulus. Bahkan, unit usaha laundry berpotensi membuka lapangan kerja dan memperkuat kemandirian ekonomi pesantren.
Kini, tantangan berikutnya terletak pada keberlanjutan program. Santri perlu menerapkan keterampilan, sedangkan pesantren harus mengelola bantuan secara produktif agar pelatihan benar-benar melahirkan pengusaha mandiri.
(Kn.01/Lan)
