Oleh : Wirastomi Yuniarko
Kebumen News – (14 April 2026) — Di tengah arus modernisasi yang kian menjauhkan generasi muda dari dunia pertanian, sosok Angga justru tampil berbeda. Bapak muda dengan dua putra ini memilih tetap setia bergelut di sawah sebagai sopir traktor sekaligus penggarap lahan di Desa Kedungwinangun, sebuah pilihan hidup yang telah ia jalani hampir sembilan tahun terakhir.
Keputusan itu bukan tanpa alasan. Sejak kecil, Angga memang tumbuh dalam lingkungan keluarga petani. Dunia lumpur, air irigasi, dan aroma tanah basah bukan sesuatu yang asing baginya. Bahkan setelah mengikuti istrinya pindah dari Banjarnegara ke Kebumen, ia tetap mempertahankan identitasnya sebagai petani.
Setiap hari, waktunya dihabiskan di hamparan sawah. Mengolah tanah dengan traktor menjadi pekerjaan utama yang menuntut tenaga, kesabaran, sekaligus ketangguhan mental. Di sela kesibukannya itu, Angga juga dipercaya masyarakat sebagai Ketua RT, sebuah amanah sosial yang semakin menambah tanggung jawabnya di tengah aktivitas pertanian yang padat.
Dalam satu musim tanam, ia harus menyelesaikan pengolahan lahan hingga tujuh hektare dalam waktu sekitar satu bulan. Target tersebut bukan perkara ringan. Permasalahan distribusi air yang tidak menentu, kerusakan mesin secara tiba-tiba, hingga tekanan kebutuhan petani agar lahan segera siap tanam menjadi tantangan yang harus ia hadapi hampir setiap hari.
Namun Angga tidak berhenti hanya sebagai pekerja lapangan. Di tengah keterbatasan waktu, ia juga aktif membuat konten edukasi pertanian di media sosial. Sapaan khasnya, “Salam Satu Lumpur!”, kini mulai akrab di telinga para pengikutnya. Melalui siaran langsung dan berbagai unggahan, ia berbagi pengalaman sekaligus pengetahuan praktis tentang pengolahan lahan, perawatan tanaman, hingga penggunaan sarana pertanian.
Konsistensinya dalam berbagi informasi membuat namanya mulai dikenal luas di kalangan petani digital. Bahkan beberapa produsen alat dan obat pertanian telah menjalin komunikasi untuk menjajaki kerja sama promosi produk.
Bagi Angga, aktivitas membuat konten bukan sekadar tambahan kesibukan, melainkan upaya memperkuat peran petani milenial di era teknologi. Ia berharap kerja sama dengan berbagai pihak ke depan dapat berkembang lebih luas, sehingga tidak hanya meningkatkan kesejahteraan dirinya, tetapi juga memberi manfaat nyata bagi petani lain di sekitarnya.
Di tengah himpitan zaman yang sering membuat profesi petani dipandang sebelah mata, Angga membuktikan bahwa bertahan di sektor pertanian bukan pilihan yang tertinggal, melainkan langkah berani menjaga masa depan pangan bangsa. (Kn.01)
