76 Silaturasa di Pesantren Bidayatul Hidayah Mojokerto, Satukan Dialog Budaya, Seni Tradisi, dan Dakwah Islam Nusantara

Mojokerto – Pondok Pesantren Bidayatul Hidayah, Mojogeneng, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto, menggelar kegiatan bertajuk 76 Silaturasa pada Kamis (29/10/2026). Mengusung slogan “Yang Penting Heppiii”, kegiatan ini memadukan dialog budaya, seni tradisional, hiburan, kegiatan sosial, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Kegiatan tersebut menjadi ruang perjumpaan para tokoh budaya, seniman, masyarakat, dan komunitas untuk merawat tradisi sekaligus memperkuat identitas kebudayaan Nusantara.

Lebih dari sekadar perayaan, 76 Silaturasa menghadirkan pesan bahwa pesantren memiliki peran strategis dalam membumikan nilai-nilai Islam melalui pendekatan kebudayaan.

Hadirkan Tokoh Budaya dan Seniman

Sejumlah tokoh dan seniman turut meramaikan kegiatan ini. Mereka antara lain Pandji Sakti, Dr. Ngatawi Al-Zastrow, Ki Ageng Ganjur, dan Gus Isroqi.

Salah satu agenda utama ialah dialog budaya yang menghadirkan Dr. Ngatawi Al-Zastrow dan Ki Ageng Ganjur. Forum ini menjadi ruang pertukaran gagasan mengenai strategi kebudayaan masyarakat Nusantara.

Eko Wahyudi, M.Hum., memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan kegiatan tersebut. Ia menilai Silaturasa menghadirkan pendekatan kebudayaan yang penting bagi kehidupan masyarakat Indonesia.

“Luar biasa acara Silaturasa ini. Dialog budaya bersama Dr. Ngatawi Al-Zastrow dan Ki Ageng Ganjur merupakan strategi kebudayaan masyarakat Nusantara,” ungkap Eko.

Ia juga menyampaikan kebanggaannya sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang terus berkreasi dan mengembangkan kebudayaan Islam Nusantara.

“Saya bangga sebagai warga bangsa Indonesia yang selalu terus berkreasi dan nyata dalam membumikan kebudayaan Islam Nusantara dengan dakwah,” tegasnya.

Menurut Eko, kebudayaan dapat menjadi ruang strategis untuk menyampaikan nilai-nilai Islam secara membumi, kreatif, dan dekat dengan kehidupan masyarakat.

Dengan demikian, dakwah tidak hanya berlangsung melalui ceramah keagamaan. Sebaliknya, seni, tradisi, dialog, dan kreativitas masyarakat juga dapat menjadi media penyampaian pesan-pesan keislaman.

Panggung Seni dan Tradisi Lokal

Selain dialog budaya, 76 Silaturasa menghadirkan pentas seni tradisional, upacara adat, serta parade band.

Berbagai kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa tradisi dan kreativitas generasi muda dapat berjalan beriringan.

Melalui panggung seni, masyarakat memperoleh ruang untuk mengekspresikan kreativitas sekaligus mengenalkan kekayaan budaya kepada generasi berikutnya.

Penyelenggara juga menghadirkan games dan kreasi warga untuk memperluas partisipasi masyarakat dalam kegiatan tersebut.

Khitan Massal dan Bazar UMKM

Tidak hanya berorientasi pada kebudayaan dan hiburan, 76 Silaturasa juga membawa misi sosial dan ekonomi.

Panitia memasukkan khitan massal sebagai bagian dari agenda kepedulian terhadap masyarakat. Selain itu, bazar UMKM memberikan kesempatan kepada pelaku usaha lokal untuk memperkenalkan dan memasarkan produk mereka.

Kehadiran bazar tersebut sekaligus membuka ruang interaksi ekonomi antara pelaku usaha dan pengunjung.

Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga menghadirkan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Pesantren sebagai Pusat Peradaban dan Kebudayaan

Penyelenggaraan 76 Silaturasa memperlihatkan peran pesantren yang semakin luas dalam kehidupan masyarakat. Pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan keagamaan, tetapi juga ruang pengembangan kebudayaan, kesenian, dan pemberdayaan sosial.

Dalam sejarah Nusantara, dakwah Islam memiliki hubungan erat dengan kebudayaan masyarakat. Para pendakwah mengembangkan pendekatan yang menghargai tradisi lokal tanpa meninggalkan nilai-nilai ajaran Islam.

Semangat tersebut menemukan relevansinya dalam kegiatan Silaturasa. Melalui dialog budaya, pertunjukan seni, upacara adat, dan aktivitas sosial, pesantren menghadirkan ruang perjumpaan yang inklusif.

Perpaduan agama, budaya, seni, dan pemberdayaan ekonomi menjadi gambaran bahwa pesantren mampu berkontribusi dalam membangun peradaban masyarakat.

Pada akhirnya, 76 Silaturasa bukan sekadar agenda hiburan. Kegiatan ini menjadi ikhtiar merawat warisan budaya, memperkuat silaturahmi, serta membumikan Islam Nusantara melalui kreativitas dan dakwah kebudayaan.

Pesan yang ingin ditegaskan sederhana: kebudayaan harus terus hidup, tradisi harus diwariskan, dan dakwah harus mampu menjawab dinamika zaman tanpa kehilangan akar sejarah Nusantara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *