Serangan Framing Media dan Upaya Adu Domba Pesantren

Kebumen News – Gelombang keresahan tengah melanda kalangan santri dan pesantren. Tayangan salah satu stasiun televisi nasional yang dinilai melecehkan sosok ulama besar dari Lirboyo memicu reaksi luas di berbagai daerah. Namun di balik amarah itu, muncul kesadaran baru bahwa persoalan ini jauh lebih dalam daripada sekadar kesalahan redaksi media.

“Ini bukan sekadar tayangan yang salah kutip. Ada pola lama yang berulang: setiap kali pesantren tampil kokoh bersama ulama dan habaib, selalu muncul serangan dari arah yang sama,” ujar K. Rofiq, tokoh santri asal Purwokerto.

Menurutnya, serangan terhadap simbol-simbol keulamaan merupakan bagian dari agenda yang lebih besar—yakni operasi adu domba untuk memisahkan santri dari tradisi Islam Nusantara yang damai dan beradab.
Tradisi ziarah wali, haul, tahlil, hingga penghormatan kepada kiai dan habaib terus dicap sesat oleh kelompok tertentu, sementara media sering kali ikut memperkuat bias itu lewat framing yang menggiring opini publik.

“Pesantren itu benteng akhlak dan peradaban. Kalau pesantren dihancurkan lewat citra, maka umat akan kehilangan penuntun,” lanjut K. Rofiq.

Pandangan serupa disampaikan H. Yasir, tokoh santri asal Pekalongan yang dikenal vokal memperjuangkan nilai-nilai keislaman yang toleran.
Ia menilai bahwa narasi penghinaan terhadap kiai dan habaib merupakan strategi pecah belah yang berakar dari kepentingan ideologis dan politik global.

“FPI, HTI, dan kelompok sejenis memang sudah lama diwarnai oleh jaringan pemikiran Timur Tengah yang ditopang modal besar dari luar. Ada dukungan ideologis dari Arab Saudi, bahkan politik dari negara-negara Barat yang ingin memanfaatkan konflik internal umat Islam,” terang H. Yasir.

Menurutnya, sebagian media nasional tanpa sadar ikut menjadi corong dari operasi ini, dengan menghadirkan berita-berita yang tampak netral namun sesungguhnya merusak citra pesantren.
“Media besar harus mawas diri. Jangan sampai menjadi alat kolonialisme baru dalam bentuk perang opini,” tegasnya.

Di sisi lain, para santri di berbagai daerah mulai menyerukan solidaritas spiritual untuk membentengi pesantren dari provokasi dan disinformasi. Mereka menggelar sholawat, ziarah, dan doa bersama sebagai bentuk peneguhan iman dan cinta tanah air.

“Kalau kita ikut terprovokasi, mereka menang. Tapi kalau kita tetap satu barisan bersama ulama, insya Allah mereka kalah,” kata H. Yasir menutup pembicaraan.

Kini, di tengah derasnya arus media dan politik identitas, pesantren kembali menjadi benteng terakhir akhlak bangsa.
Dan seperti kata K. Rofiq, “Selama masih ada santri yang membaca sholawat dan mencium tangan kiai, Indonesia akan tetap berdiri di atas ruh kasih sayang, bukan kebencian.” (Kn.01)