Sejarah Joko Sangkrib – Aroeng Binang I: Dari Pribadi Terpinggirkan Menjadi Adipati Kebumen Asal-Usul dan Latar Sejarah

Kebumen News – Joko Sangkrib atau dalam beberapa sumber disebut juga sebagai Tumenggung Honggowongso adalah tokoh legendaris dalam sejarah Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Ia dikenal sebagai Bupati pertama atau Adipati pertama Kebumen — bergelar Arueng Binang I — yang kemudian menjadi nenek moyang dinasti pemimpin di daerah itu.

Menurut versi Babad Aroeng Binang dan tradisi lisan masyarakat, Joko Sangkrib berasal dari sebuah keluarga bangsawan Jawa, meskipun detailnya berbeda antar versi. Dalam beberapa tulisan disebutkan bahwa ia merupakan anak dari Kyai Hanggayuda atau bahkan sebagai putra Pangeran Puger (Pakubuwana I) dalam catatan lain.

Perjalanan Hidup yang Penuh Rintangan

Cerita tradisional menyatakan bahwa semasa muda Joko Sangkrib mengalami penyakit kulit yang parah sehingga mengalami penderitaan dan pengucilan. Ia pernah tidur di bawah pohon atau di hutan karena ditolak oleh keluarga dan masyarakatnya.

Dalam legenda, Joko Sangkrib kemudian berkelana ke hutan dan menemukan sendang – tempat air bening – di mana ia bertapa dan menyembuhkan dirinya sendiri selama puluhan hari. Pengalaman ini mengubah hidupnya dan membuatnya dikenal karena ilmu, keteguhan, dan ketabahannya.

Setelah sembuh dan kuat secara spiritual, Joko Sangkrib melanjutkan pendidikan ke beberapa tempat gurunya, termasuk berguru pada Kyai Ahmad Yusuf dan kemudian melakukan perjalanan ke utara Jawa. Nama samaran yang digunakan dalam perjalanannya adalah Surawijaya.

Pengangkatan Sebagai Pemimpin dan Peran Politik

Ia kemudian diangkat sebagai Mantri Gladhak di Keraton Surakarta dan atas jasanya membantu menanggulangi pemberontakan serta tugas pemerintahan, ia mendapatkan gelar Tumenggung Honggowongso, sebelum akhirnya dipilih menjadi Arueng Binang I.

Pengangkatan tersebut juga disebut sebagai bentuk penghormatan karena kontribusinya dalam menunjang pemerintahan serta keteguhan pribadinya yang dikenal di kalangan keraton. Ia pun kemudian menjadi pemimpin dan pendiri wilayah pemerintahan yang kelak berkembang menjadi Kadipaten Kutowinangun dan pusat pemerintahan untuk daerah Kebumen.

Perjalanan Spiritual dan Petilasan di Brecong

Catatan sejarah lokal menyebutkan bahwa dalam perjalanan spiritualnya, Joko Sangkrib pernah melakukan tapa pendhem di dekat Pantai Brecong di Desa Brecong, Kecamatan Buluspesantren. Dalam tapa yang dilakoni selama 40 hari 40 malam, ia menguji keteguhan rohnya dan terbukti selamat — sebuah tanda kekuatan batinnya.

Bekas petilasan tersebut kini dikenal sebagai salah satu situs bersejarah yang masih dihormati masyarakat setempat karena dianggap menandai awal perjalanan spiritual yang membawa Joko Sangkrib menjadi pemimpin besar.

Warisan dan Pengaruh

Nama Arueng Binang I tidak hanya mencerminkan pribadi Joko Sangkrib, tetapi juga menjadi nama silsilah dan dinasti para pemimpin yang memerintah di daerah Kebumen, khususnya di Panjer dan Kutowinangun sejak awal abad ke-19 hingga masa kolonial Belanda.

Dalam tradisi masyarakat lokal, Joko Sangkrib dianggap sebagai tokoh penting yang membuka sejarah awal pemerintahan di Kebumen dan menjadi simbol keteguhan, perjuangan, serta kepemimpinan yang lahir dari nilai-nilai spiritual Jawa.

Catatan

Sejarah tentang Joko Sangkrib atau Arueng Binang I banyak bersumber dari babad, cerita rakyat, dan tradisi lisan, sehingga beberapa detailnya tidak seragam atau memiliki variasi antar versi cerita. Namun, yang umum diterima adalah bahwa ia merupakan tokoh besar yang menjadi pemimpin pertama di wilayah Kebumen dan leluhur dari line pemimpin lokal.  (Kn.01/diolah dari berbagai sumber)