Kebumen News – Jumat siang, 30 Januari 2026. Dalam rangka memperingati Harlah 100 Tahun Nahdlatul Ulama sekaligus melaksanakan program kerja MWCNU Kecamatan Klirong, digelar kegiatan Kajian Ilmu Falak yang untuk pertama kalinya diselenggarakan di tingkat MWCNU. Kegiatan ini mendapat sambutan hangat dan antusias dari para peserta yang memadati lokasi kajian.
Kegiatan tersebut dihadiri Rois Syuriyah, para Mustasyar, Ketua Tanfidziyyah beserta jajaran pengurus MWCNU Kecamatan Klirong. Turut hadir perwakilan Ranting NU se-Kecamatan Klirong serta unsur badan otonom NU, di antaranya Muslimat NU, Ansor, Fatayat NU, IPNU, dan IPPNU.
Acara diawali dengan pembacaan tahlil yang dipimpin langsung oleh Rois Syuriyah MWCNU Kecamatan Klirong. Suasana khidmat terasa sejak awal, menandai semangat kebersamaan dan kekhidmatan khas Nahdliyin dalam mengawali kegiatan keilmuan.
Dalam sambutannya, Ketua Tanfidziyyah MWCNU Kecamatan Klirong, K. Budiyono, S.Pd., menyampaikan bahwa Kajian Ilmu Falak merupakan program yang diusulkan oleh Ranting NU. Menurutnya, kajian ini diharapkan dapat menambah wawasan keilmuan para peserta, khususnya dalam bidang falakiyah yang memiliki keterkaitan langsung dengan praktik ibadah sehari-hari.
Ia juga menyampaikan beberapa capaian penting MWCNU Kecamatan Klirong, di antaranya telah rampungnya penyusunan Buku Pedoman Tahlil dan Sholat Tarawih yang nantinya dapat dijadikan rujukan bersama bagi masjid dan musholla di masing-masing ranting. Selain itu, MWCNU juga telah menyelesaikan penulisan buku sejarah berdirinya SMP Ma’arif 3 Klirong. Di sela sambutan, dilakukan penyerahan Buku Pedoman Tahlil dan Sholat Tarawih serta Buku Sejarah Pendirian SMP Ma’arif 3 Klirong yang diserahkan oleh tim penulis.
Kajian Ilmu Falak disampaikan oleh narasumber Dr. Maryanto, M.Sc. dari PCNU Kebumen. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa secara etimologis kata falak merupakan bentuk jamak yang bermakna orbit atau edar. Ia menegaskan bahwa ilmu falak bukanlah ilmu baru, melainkan telah digunakan ribuan tahun sebelum masa kenabian Nabi Muhammad SAW, bahkan sejak peradaban Mesopotamia di wilayah Irak dan Iran.
Dr. Maryanto juga mengulas tokoh-tokoh besar dalam sejarah ilmu falak, di antaranya Al-Khuwarizmi dari wilayah Uzbekistan yang dikenal sebagai penyusun tabel astronomi sekaligus penemu angka nol, serta Al-Farghoni yang dikenal sebagai ilmuwan yang menghitung diameter bumi. Paparan tersebut memperlihatkan betapa kuatnya kontribusi ilmuwan Muslim dalam pengembangan ilmu pengetahuan dunia.
Lebih lanjut disampaikan bahwa mempelajari ilmu falak memiliki manfaat praktis yang sangat penting, seperti penentuan arah kiblat melalui metode rashdul kiblat yang terjadi pada bulan Mei dan Juli, serta perhitungan awal waktu sholat. Narasumber juga menyinggung kemungkinan perbedaan awal puasa antara NU dan Muhammadiyah, namun membuka peluang bahwa penetapan 1 Syawal dapat jatuh pada hari yang sama.
Seluruh peserta tampak antusias mengikuti kajian hingga sesi tanya jawab. Sejumlah pertanyaan kritis dan reflektif disampaikan peserta, menunjukkan tingginya minat terhadap kajian falakiyah. Meski pelaksanaan kajian berlangsung secara lesehan dan sempat terganggu hujan deras yang turun tiba-tiba, kegiatan tetap berjalan lancar hingga akhir. Menjelang penutupan acara, hujan pun mereda dan hanya menyisakan rintik-rintik kecil.
Kegiatan ini menjadi penanda kuat bahwa MWCNU Kecamatan Klirong tidak hanya konsisten dalam tradisi keagamaan, tetapi juga serius mengembangkan kajian keilmuan sebagai bagian dari penguatan peradaban Nahdlatul Ulama di usia satu abad. (Kn.01)
