Baju Kebesarannya adalah Pemaaf
Oleh: Dr. Mustolih, S.Pd.I., M.Pd.
1. Dakwah di Tengah Dunia yang Bising
Kebisingan hari ini bukan hanya berasal dari jalanan kota atau pasar, tetapi juga dari ruang digital yang tak pernah sunyi. Di sana, semua orang berbicara, berteriak, berdebat, dan saling menyalahkan dengan keyakinan masing-masing. Ironisnya, di tengah hiruk pikuk itu, suara dakwah sering ikut tenggelam — bukan karena lemah, tapi karena kehilangan kelembutan.
Kita menyaksikan betapa dakwah yang sejatinya harus menjadi rahmat lil ‘alamin justru kadang tampil dengan wajah keras. Dakwah yang seharusnya menghidupkan, berubah menjadi ajang vonis dan permusuhan. Orang yang berbeda pandangan dikucilkan, yang keliru sedikit langsung dicap sesat, dan yang belum sejalan dianggap musuh Islam.
Padahal, Rasulullah SAW pernah mengingatkan bahwa tugas seorang dai bukanlah menaklukkan manusia, melainkan mengetuk hati mereka dengan kasih. “Innallāha rafīqun yuhibbur rifqa fī kulli amr — Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut dan mencintai kelembutan dalam segala urusan.” Maka jika dada seorang dai masih sempit, bagaimana mungkin ia bisa menampung umat yang beragam?
Dakwah bukan sekadar menyampaikan kebenaran, tetapi juga bagaimana kebenaran itu bisa diterima dengan keteduhan. Sebab kebenaran yang disampaikan dengan amarah, sering kali kehilangan ruhnya. Ia mungkin benar secara teks, tapi gagal secara jiwa.
2. Sempitnya Dada, Sempitnya Jalan Dakwah
Ada satu hal yang sering terlupakan oleh para pejuang dakwah: bahwa sebelum Allah menugaskan Nabi Muhammad SAW menyampaikan risalah, Allah terlebih dahulu melapangkan dadanya. “Alam nashrah laka shadrak” (Bukankah Kami telah melapangkan dadamu?).
Ayat ini bukan sekadar kalimat puitis; ia adalah fondasi spiritual dakwah.
Sebab dakwah adalah jalan yang penuh ujian, cacian, fitnah, bahkan pengkhianatan. Seorang dai yang dadanya sempit akan mudah tersulut marah, cepat tersinggung, dan kehilangan arah. Ia merasa dakwah adalah tentang dirinya, bukan tentang Allah. Maka sedikit kritik dianggap penghinaan, sedikit perbedaan dianggap ancaman.
Dada yang sempit adalah tanda bahwa ego belum ditundukkan. Seorang dai yang hatinya belum lapang akan selalu melihat manusia dalam dikotomi: kawan-lawan, benar-salah, surga-neraka. Padahal dakwah membutuhkan ruang yang luas untuk memahami bahwa setiap manusia punya proses menuju kebaikan.
Rasulullah tidak membangun Islam dengan teriakan, tapi dengan keluasan hati. Ketika beliau dihina, dilempari, bahkan ditolak oleh kaumnya, beliau tidak marah. Beliau justru mendoakan. Karena beliau tahu, orang yang mencaci itu belum mengerti. Mereka bukan musuh, mereka hanya belum paham.
3. Lapang Dada: Ruang Tempat Manusia Masuk
Lapang dada adalah metafora spiritual dari rumah yang terbuka. Dakwah bukan benteng pertahanan, melainkan pintu masuk bagi manusia yang haus makna. Seorang dai yang lapang dada adalah seperti taman yang sejuk: siapa pun yang datang, menemukan keteduhan.
Lapang dada berarti menerima bahwa manusia berbeda. Tidak semua orang berjalan pada kecepatan yang sama. Ada yang sudah jauh dalam iman, ada yang baru melangkah, ada yang masih bingung di persimpangan. Lapang dada juga berarti tidak terburu-buru menghakimi. Karena dakwah adalah proses panjang, bukan sekadar hasil instan.
Dalam sejarah Islam, kita mengenal banyak tokoh dakwah yang lapang hatinya. Imam Hasan al-Bashri dikenal dengan kelembutan lidah dan keluasan hatinya. Ia tak pernah mencaci orang yang berbuat dosa, karena baginya tugas seorang ulama bukan menghukum, melainkan membimbing. Seorang dai sejati adalah penuntun, bukan penjaga gerbang surga yang sibuk menolak tamu.
Jika dakwah ingin menembus hati manusia, maka hati dai itu sendiri harus menjadi tempat yang luas. Sebab tak ada manusia yang mau mendekat pada orang yang hatinya sempit.
4. Pemaaf: Baju Kebesaran Seorang Dai
Baju kebesaran seorang dai bukan jubah putihnya, bukan sorbannya yang menjuntai, melainkan sifat pemaafnya. Sebab pemaaf adalah mahkota tertinggi dari iman dan tanda kematangan spiritual.
Rasulullah SAW adalah teladan agung dalam hal ini. Ketika penduduk Thaif melempari beliau dengan batu hingga berdarah, malaikat Jibril menawarkan untuk menghancurkan mereka. Namun Rasulullah menolak dengan lembut, “Jangan. Aku berharap kelak dari keturunan mereka lahir orang-orang yang beriman.” Inilah keluasan hati seorang Nabi — memaafkan bahkan ketika ia berhak membalas.
Di Makkah, saat beliau kembali sebagai pemenang dalam peristiwa Fathu Makkah, beliau bisa saja menuntut balas. Namun, kalimat yang keluar dari lisannya justru, “Idhhabû fa antumuth-thulaqâ — Pergilah, kalian bebas.”
Sebuah deklarasi pemaafan terbesar dalam sejarah manusia.
Pemaaf bukan berarti lemah, tapi justru tanda kekuatan batin. Orang yang mampu memaafkan berarti ia telah menaklukkan egonya. Dalam setiap luka yang dimaafkan, ada kemenangan ruhani yang lebih besar dari sekadar kemenangan debat.
Dalam dakwah, memaafkan adalah cara menjaga ruh. Karena jika hati seorang dai dipenuhi dendam dan kemarahan, maka dakwahnya kehilangan keberkahan. Sebaliknya, dai yang pemaaf akan selalu menemukan jalan damai bahkan di tengah permusuhan.
5. Dakwah yang Menghidupkan, Bukan Menyalahkan
Salah satu krisis besar dakwah modern adalah hilangnya ruh al-rahmah — semangat kasih. Banyak mimbar berubah menjadi ruang vonis. Banyak khutbah berisi caci. Padahal dakwah bukan untuk membuat manusia merasa takut kepada Islam, tapi jatuh cinta padanya.
Dakwah yang menghidupkan adalah dakwah yang memberi harapan, bukan dakwah yang menyalakan ketakutan. Seorang dai yang lapang dada akan mencari cara agar orang lain merasa didengarkan, bukan diserang.
Dalam Al-Qur’an, Allah memerintahkan Nabi Musa dan Harun untuk berkata lembut kepada Fir’aun, orang yang paling durhaka di muka bumi. “Fa qûlâ lahu qaulan layyina” (Berkatalah kepadanya dengan kata yang lembut). Jika kepada Fir’aun saja Allah perintahkan kelembutan, apalagi kepada saudara sesama muslim?
Kelembutan bukan berarti kompromi terhadap kebenaran, melainkan cara agar kebenaran bisa diterima dengan indah. Karena kebenaran yang kasar akan ditolak, sedangkan kebenaran yang lembut akan meresap.
6. Menjadi Dai di Zaman Luka dan Bising
Kita hidup di zaman yang penuh luka batin. Media sosial memperuncing perbedaan, membuat manusia mudah marah dan sulit mendengar. Dalam situasi seperti ini, seorang dai harus menjadi penenang, bukan provokator. Menjadi penyejuk di tengah panasnya konflik.
Dakwah di era digital menuntut kedewasaan emosional. Orang bisa saja cerdas secara intelektual, tapi gagal secara spiritual. Banyak yang hafal dalil, tapi tak mampu menahan diri. Banyak yang rajin berdakwah, tapi tak pernah mau mendengarkan.
Jika dada masih sempit, media sosial akan menjadi arena pertempuran ego, bukan ladang dakwah. Setiap komentar dianggap serangan, setiap perbedaan dianggap penghinaan. Padahal dunia maya sejatinya adalah ruang baru untuk menebar kasih — jika digunakan dengan hati yang lapang.
Menjadi dai di zaman sekarang berarti siap memeluk dunia yang retak. Membuka ruang dialog dengan siapa pun, tanpa merasa diri paling suci. Karena yang kita hadapi bukan hanya orang kafir atau fasik, tapi juga sesama manusia yang sedang mencari Tuhan dalam kebingungan.
7. Penutup: Dakwah adalah Jalan Cinta
Pada akhirnya, dakwah bukanlah tentang seberapa banyak kita berbicara, tetapi seberapa dalam kita mampu memahami manusia. Dakwah bukan tentang mengalahkan orang lain, tetapi tentang menundukkan ego kita sendiri.
Jika dada kita masih sempit, dakwah akan menjadi bising, penuh benturan dan kecurigaan. Namun ketika dada kita lapang, setiap orang yang datang — dengan segala luka, kebodohan, atau kesalahannya — akan menemukan tempat di hati kita.
Rasulullah SAW adalah contoh tertinggi dari dakwah cinta. Beliau menebarkan kasih bukan karena orang lain pantas, tetapi karena hatinya terlalu luas untuk membenci. Beliau memaafkan bukan karena lemah, tapi karena kuat. Dan kekuatan itu lahir dari cinta kepada Allah.
Maka benarlah: baju kebesaran seorang dai adalah pemaaf.
Sebab dengan memaafkan, ia menanggalkan egonya, dan mengenakan pakaian para Nabi.
Dengan lapang dada, ia tidak hanya menyampaikan risalah, tetapi juga menghadirkan Allah dalam setiap tutur katanya.
Dan pada akhirnya, dakwah sejati bukan sekadar seruan di mimbar, tetapi pancaran dari hati yang luas — hati yang mampu menampung manusia sebanyak-banyaknya tanpa pernah penuh, karena ia berakar pada samudera kasih Ilahi.
(Kn.01)
