Batik Pegon: Jejak Keteguhan dan Kemandirian dari Rumah Inklusif Kebumen

Kebumen News – 7 November 2025

Di sebuah sudut Kabupaten Kebumen, tepatnya di Rumah Inklusif, lahirlah karya yang bukan hanya indah secara visual, tetapi juga sarat makna perjuangan—Batik Pegon. Ia bukan sekadar kain bermotif, melainkan simbol keberdayaan, harapan, dan kebangkitan keluarga difabel yang menolak dikasihani, dan justru memilih berdiri di atas kaki sendiri.

Rumah Inklusif Kebumen merupakan komunitas yang digerakkan oleh keluarga penyandang disabilitas. Mereka datang dari latar belakang yang berbeda—ada yang dulunya dijauhi keluarga, dipandang sebelah mata, bahkan menjadi korban stigma sosial. Namun dari luka itu, mereka menumbuhkan tekad untuk membangun wadah yang ramah, produktif, dan berdaya bagi anak-anak difabel. Dari semangat itulah Batik Pegon lahir.


Akar Budaya dan Simbol Keberagaman

Batik Pegon mengambil inspirasi dari aksara Pegon—huruf Arab yang digunakan untuk menulis bahasa Jawa dan Melayu pada masa lampau. Di tangan para perajin Rumah Inklusif, aksara itu tidak hanya menjadi ornamen estetis, tetapi juga simbol filosofi yang mendalam. Pegon melambangkan keterhubungan antara tradisi Islam dan budaya Jawa, antara religiusitas dan kearifan lokal, antara sejarah dan keberlanjutan.

Motif-motif Batik Pegon biasanya memadukan bentuk huruf Arab-Jawa dengan pola flora khas Kebumen, seperti bunga wijaya kusuma, padi, atau ombak selatan. Setiap guratan lilin di kainnya mengandung pesan: bahwa perbedaan bukan penghalang, tetapi kekuatan yang menyatu dalam harmoni.


Motif-Motif yang Menyimpan Kisah Kehidupan

Setiap motif Batik Pegon tidak hanya lahir dari kreativitas, tetapi juga dari pengalaman hidup yang nyata—dari tangis, perjuangan, hingga kebahagiaan keluarga difabel di komunitas Rumah Inklusif.

Ada Motif Ngapati, yang melambangkan perjuangan empat pilar keluarga difabel yang pertama kali mendirikan Rumah Inklusif. Pola ini menggambarkan tangan-tangan yang saling menggenggam, simbol tekad bersama untuk melindungi dan menguatkan satu sama lain.

Ada pula Motif Guyub Rukun, yang memancarkan semangat kebersamaan dan solidaritas antaranggota komunitas. Motif ini diciptakan setelah salah satu keluarga difabel berhasil bangkit dari keterpurukan ekonomi berkat dukungan gotong royong sesama anggota.

Selain itu, ada motif-motif lain seperti “Lintang Pegon” yang menggambarkan cahaya harapan di tengah gelapnya diskriminasi sosial, serta “Banyu Mata”, motif dengan corak menyerupai aliran air yang lahir dari kisah nyata orang tua difabel yang berjuang sendirian membesarkan anaknya.

Maka, setiap helai Batik Pegon sejatinya adalah lembaran sejarah kecil. Ia menyimpan jejak tangis dan tawa, kegigihan dan cinta, luka dan penyembuhan—semua dijahit dengan benang keikhlasan dan warna kehidupan.


Kemandirian Melalui Karya

Batik Pegon bukan hasil dari proyek bantuan pemerintah atau korporasi besar. Ia lahir dari iuran anggota komunitas, hasil jerih payah orang tua anak difabel yang ingin membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berkarya.

Mu’inatul Khoeriyah, salah satu penggerak Rumah Inklusif, menceritakan bahwa awalnya mereka hanya membuat batik dengan alat sederhana dan modal kecil. Namun dengan semangat gotong royong, karya mereka berkembang pesat. Setiap lembar batik dijual, dan hasilnya dimasukkan ke dalam Lumbung Rumah Inklusif—sebuah sistem ekonomi komunitas yang berfungsi membiayai pendidikan, keterampilan, dan usaha anggota keluarga difabel.

“Batik Pegon bukan hanya produk, tapi sumber kehidupan. Dari sini anak-anak bisa sekolah, bisa mandiri, dan punya rasa percaya diri,” ujarnya.


Panggung untuk Anak-Anak Difabel

Momen paling menyentuh adalah ketika anak-anak difabel Rumah Inklusif tampil memperagakan busana Batik Pegon di depan Menko PMK H. A. Muhaimin Iskandar. Dengan senyum penuh keyakinan, mereka berjalan di atas panggung sederhana, memamerkan hasil karya mereka sendiri. Tidak ada rasa minder, tidak ada rasa malu—yang ada hanyalah kebanggaan.

Batik Pegon menjadi ruang ekspresi. Anak-anak yang dulu mungkin dianggap “tidak bisa apa-apa” kini menjadi duta budaya Kebumen. Kain yang mereka lukis dengan cinta kini menjadi identitas baru: bahwa difabel pun mampu mencipta, berkontribusi, dan menginspirasi.


Dukungan dan Harapan ke Depan

Kunjungan Cak Imin ke Rumah Inklusif menjadi penegasan bahwa karya-karya semacam Batik Pegon perlu mendapatkan dukungan nyata dari pemerintah. Dalam kesempatan itu, ia menyatakan bahwa keluarga difabel harus menjadi prioritas dalam kebijakan bantuan sosial dan pemberdayaan ekonomi.

Bantuan senilai Rp275 juta dari pemerintah diharapkan menjadi modal awal untuk memperkuat sistem produksi Batik Pegon, memperluas pasar, serta menjadikan Rumah Inklusif sebagai model pemberdayaan difabel berbasis budaya di Indonesia.

Namun, lebih dari sekadar bantuan materi, yang dibutuhkan adalah pengakuan dan keberpihakan. Sebab Batik Pegon adalah manifestasi dari semangat kesetaraan—bahwa setiap manusia, betapapun berbeda kemampuannya, memiliki potensi untuk berkarya dan berdaya.


Batik yang Menenun Harapan

Batik Pegon bukan hanya warisan budaya, tetapi juga kisah tentang cinta, keteguhan, dan solidaritas. Ia menenun huruf-huruf Pegon menjadi kisah baru: kisah tentang masyarakat yang inklusif, di mana setiap orang diberi ruang untuk tumbuh dan dihargai.

Dari tangan-tangan yang mungkin gemetar karena keterbatasan fisik, lahirlah karya yang menggetarkan hati—karya yang mengingatkan kita bahwa inklusivitas bukan belas kasih, melainkan penghargaan terhadap kemanusiaan.

Rumah Inklusif Kebumen telah membuktikan bahwa keindahan sejati tidak hanya ada pada motif batik, tetapi juga pada perjuangan di baliknya. Dan Batik Pegon adalah bukti bahwa dari Kebumen, keberanian untuk mandiri dan bermartabat bisa menembus batas apa pun.

(Kn.01)