Kebumen News – (Jumat, 30 Januari 2026)
Genap satu abad sejak berdiri pada 1926 M, Nahdlatul Ulama menapaki usia ke-100 dengan jejak pengabdian yang terus mengakar bagi umat, bangsa, dan lingkungan. Momentum bersejarah itu diperingati tidak sekadar dengan seremoni, melainkan melalui aksi nyata yang menyentuh bumi pesisir Kebumen.
Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) Kabupaten Kebumen menggelar program penghijauan pesisir di Pantai Laguna Gajah, Desa Surorejan, Kecamatan Puring. Sebanyak 100 bibit pohon, terdiri atas mangrove dan cemara, ditanam serentak sebagai simbol satu abad napas pengabdian NU yang berkelanjutan.
Pemilihan jumlah bibit bukan tanpa makna. Seratus pohon menjadi representasi perjalanan NU selama satu abad yang terus tumbuh, menguat, dan memberi perlindungan. Mangrove dan cemara dipilih sebagai benteng hijau alami yang berfungsi menahan abrasi, meredam terjangan gelombang, sekaligus menjadi bagian dari strategi mitigasi bencana berbasis alam di wilayah pesisir selatan Kebumen.
Ketua LPBI NU Kabupaten Kebumen, Mudzakir, S.Pd.I., menegaskan bahwa aksi tanam pohon ini merupakan refleksi rasa syukur atas usia satu abad NU. Menurutnya, peringatan abad NU harus meninggalkan jejak manfaat yang nyata dan berjangka panjang.
“Hari ini NU genap satu abad masehi. Kami ingin memperingatinya bukan hanya dengan doa di lisan, tetapi dengan jejak manfaat di alam. Menanam 100 pohon ini adalah sedekah oksigen sekaligus ikhtiar agar memasuki abad kedua, NU tetap hadir sebagai pelindung lingkungan dan manusia,” ujar Mudzakir.
Aksi penghijauan tersebut diikuti relawan gabungan dari Terkam LPBI NU, Bagana, Garfa, serta rekan-rekan CBP dan KPP. Dengan penuh semangat dan kebersamaan, para relawan terjun langsung ke area tanam, memastikan setiap bibit tertanam kuat sebagai fondasi masa depan pesisir Kebumen yang lebih hijau dan tangguh.
Melalui gerakan sederhana namun bermakna ini, LPBI NU Kebumen menegaskan bahwa pengabdian NU tidak hanya berhenti pada dakwah dan sosial kemasyarakatan, tetapi juga merambah ikhtiar menjaga alam sebagai bagian dari amanah peradaban. Satu abad NU bukan akhir perjalanan, melainkan awal pengabdian yang kian relevan di tengah tantangan perubahan iklim dan krisis lingkungan. (Kn.01)
