Kebumen News – 15 Maret 2026.
Di tengah gempuran aneka camilan modern yang serba instan dan penuh variasi rasa, sagon tetap bertahan sebagai salah satu makanan tradisional yang tak kehilangan penggemarnya. Kue berbahan dasar kelapa dan tepung ini justru menghadirkan rasa nostalgia yang kuat, mengingatkan banyak orang pada suasana dapur tempo dulu.
Proses pembuatannya masih mempertahankan cara-cara sederhana yang diwariskan turun-temurun. Kelapa diparut lalu disangrai hingga kering dan harum, kemudian dicampur dengan tepung dan gula sebelum dicetak menjadi potongan-potongan kecil. Setelah itu, sagon dipanggang hingga matang dengan aroma khas yang menggoda.
Yang menarik, proses pemanggangan sagon di banyak rumah masih menggunakan oven tradisional. Oven ini bukanlah oven modern berbahan listrik atau gas, melainkan tungku kayu sederhana yang dipasangi lembaran seng. Dua lembar seng ditumpuk dengan sedikit celah di antaranya sebagai ruang panas. Di bagian atasnya kemudian diberi bara dari sabut kelapa yang menyala perlahan. Bara itulah yang menjadi sumber panas utama untuk memanggang sagon hingga kering dan matang sempurna.
Metode tradisional ini bukan sekadar teknik memasak, tetapi juga bagian dari kearifan lokal. Panas dari bara sabut kelapa menghasilkan tingkat kematangan yang merata sekaligus menghadirkan aroma khas yang sulit ditiru oleh oven modern. Dari tungku sederhana itulah lahir sagon dengan tekstur renyah dan rasa gurih manis yang khas.
Di banyak daerah di Jawa, termasuk Kebumen, sagon kerap hadir sebagai suguhan saat berkumpul bersama keluarga, hidangan hari raya, atau sekadar teman minum teh dan kopi di sore hari. Rasanya yang sederhana justru membuatnya tetap dicintai lintas generasi.
Karena itu, menjaga keberadaan sagon bukan sekadar mempertahankan makanan tradisional. Lebih dari itu, ia adalah upaya merawat memori kolektif masyarakat, menjaga warisan kuliner, sekaligus mengingatkan bahwa kesederhanaan sering kali menyimpan rasa yang paling berkesan. (Kn.01)
