Kebumen News – (Senin, 19 Januari 2026)
Anggota ekstrakurikuler Karya Ilmiah Remaja (KIR) MAN 1 Kebumen kembali menegaskan eksistensinya sebagai ruang tumbuh kreativitas siswa. Melalui kegiatan pelatihan keterampilan tangan, para siswa berhasil menyulap mug polos dan bahan resin menjadi karya seni bernilai estetik tinggi yang memadukan unsur sains, seni, dan kewirausahaan.
Kegiatan yang berlangsung di lingkungan MAN 1 Kebumen ini difokuskan pada dua praktik utama, yakni teknik ecoprint pada media mug dan pembuatan gantungan kunci berbahan resin. Seluruh rangkaian kegiatan didampingi langsung oleh dua pembina KIR, Faizatul Khasanah dan Husna Amalana, yang secara intensif membimbing siswa sejak tahap persiapan hingga finishing produk.
Pelatihan ini dirancang tidak sekadar sebagai aktivitas keterampilan, melainkan sebagai sarana edukatif untuk mengenalkan pengolahan bahan alam dan kimia sederhana menjadi produk kreatif yang memiliki nilai guna sekaligus nilai jual.
Berbeda dari praktik ecoprint pada kain yang lazim ditemui, anggota KIR MAN 1 Kebumen justru menantang diri dengan media keramik berupa mug coating. Proses diawali dengan tahap mordanting, yaitu merendam kain blanket dalam larutan cuka sebagai pengunci warna alami daun. Selanjutnya, daun-daun pilihan seperti jati dan pisang ditata dengan komposisi tertentu di permukaan mug, kemudian dibalut kain dan dibungkus plastik secara rapat.
Tahap paling krusial adalah proses pengukusan selama satu hingga dua jam. Pada fase inilah pigmen alami daun keluar dan membentuk motif khas yang melekat pada permukaan mug. Setelah proses pendinginan, hasil ecoprint pun tampak unik dan eksklusif. Setiap mug memiliki karakter visual berbeda, bergantung pada jenis daun dan pola penataannya.
“Hasilnya tidak pernah sama. Inilah nilai seni ecoprint, setiap karya memiliki keunikan yang tidak bisa diulang persis,” ungkap salah satu pembina saat mendampingi kegiatan.
Selain eksplorasi seni berbasis alam, anggota KIR juga diajak memasuki ranah kerajinan modern melalui pembuatan gantungan kunci dari resin. Dalam sesi ini, siswa dilatih bekerja secara teliti dan disiplin, terutama terkait aspek keamanan dengan penggunaan masker dan sarung tangan.
Para siswa mempelajari teknik pencampuran resin dan pengeras (hardener) dengan perbandingan yang tepat agar menghasilkan tampilan bening maksimal. Proses kreatif semakin menarik ketika mereka menambahkan elemen dekoratif seperti glitter, pewarna, hingga bunga kering ke dalam cetakan silikon. Untuk menjaga kualitas hasil, siswa juga dikenalkan teknik menghilangkan gelembung udara menggunakan alat pemanas sebelum masuk ke tahap pengeringan atau curing selama 24 hingga 48 jam.
Pembina KIR, Faizatul Khasanah, mengapresiasi antusiasme dan kesungguhan siswa selama mengikuti kegiatan. Menurutnya, pelatihan ini menjadi media pembelajaran kontekstual yang mengintegrasikan sains dan seni secara seimbang.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin menanamkan kesadaran bahwa sains dan seni dapat berjalan beriringan. Ecoprint mengajarkan siswa untuk menghargai alam, sementara resin melatih ketelitian dan kesabaran. Harapannya, keterampilan ini mampu menumbuhkan jiwa kewirausahaan dalam diri mereka,” ujar Faizatul.
Ke depan, hasil karya anggota KIR MAN 1 Kebumen direncanakan untuk dipamerkan dalam berbagai kegiatan madrasah, bahkan berpotensi dikembangkan sebagai produk unggulan bernilai ekonomi. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa madrasah tidak hanya menjadi ruang belajar akademik, tetapi juga laboratorium kreativitas dan karakter kewirausahaan generasi muda. (Kn.01)
