Kebumen News – Ribuan jamaah memadati kompleks Pesantren Al Huda, Jetis Kutosari, Kebumen, dalam rangkaian peringatan Haul ke-41 KH. Machfudz Chasbullah, ulama kharismatik yang menjadi panutan masyarakat. Acara tersebut dirangkai dengan Haul Masyayikh Thariqah Naqsyabandiyah Kholidiyah, Khataman Al-Qur’an, dan pembacaan Alfiyah Ibnu Malik yang berlangsung penuh khidmat.
Pengasuh Pesantren Al Huda, KH. Wahib Mahfudz dan KH. Yazid Mahfudz, menyambut hangat para tamu undangan yang hadir dari berbagai daerah. Hadir pula Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj, MA., yang menyampaikan mauidhah hasanah di hadapan jamaah.
Dalam ceramahnya, KH. Said Aqil menegaskan bahwa santri memiliki tanggung jawab besar untuk melanjutkan ajaran dan tinggalan para ulama NU. “Santri jangan pernah lepas dari khazanah pesantren. Tugas santri adalah menjaga, meneruskan, dan mengamalkan ilmu yang diwariskan para ulama. Itulah jati diri kita,” tegasnya.
Ia lalu menguraikan bagaimana warisan keilmuan pesantren terbentuk. Mulai dari manhajut ta’lim (metode penyampaian ilmu), lahirnya ilmu tajwid oleh Imam Abu Ubay Qasim bin Salam, penetapan harakat oleh Imam Kholil, hingga pemberian titik pada huruf Arab oleh Abul Aswad Ad-Du’ali. Menurutnya, itu semua adalah bukti ketelitian ulama dalam menjaga kemurnian Al-Qur’an dan hadis.
Acara semakin semarak dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an dari para santri dalam khataman, dilanjutkan dengan pembacaan Alfiyah Ibnu Malik, kitab gramatika Arab klasik yang menjadi rujukan utama dunia pesantren. Haul kali ini bukan hanya momentum doa bersama, tetapi juga ajang memperkokoh tradisi keilmuan dan mempererat ikatan santri dengan para masyayikh. (Kn.01)
